TES BERITA POPULER

Thursday, 17 April 2014

5 Aksi Terheboh Caleg Stres

ilustrasi caleg gila
BeritaPopuler - Pemilu legislatif yang berlangsung pada 9 April 2014 menyisakan berbagai masalah. Diantaranya, banyak caleg stres setelah mengetahui dirinya gagal melenggang ke gedung dewan. Aksi-aksi mereka pun bikin heboh media massa.

Berikut ini 10 aksi terheboh caleg stres karena gagal menjadi aleg:

1. Menangis terus di rumah sakit
Caleg ini dibawa ke Poliklinik Kejiwaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) W.Z. Johannes Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu 12 April 2014 lalu. Caleg ini, yang oleh keluarganya tak mau disebutkan namanya, stres berat mengetahui dirinya kalah. Menurut keluarganya, ia ditipu oleh tim S-nya.

"Kasihan Bapak. Dia ditipu oleh timnya sendiri. Sudah banyak uang yang dikeluarkan. Mereka hanya mau uang," kata salah seorang anggota keluarganya yang mengantar ke RSUD. Begitu tiba di RSUD, caleg ini terus menangis. Oleh petugas, ia hanya diberi obat jalan dan kemudian diperbolehkan pulang.

2. Telanjang dan teriak-teriak
Pondok Pesantren Dzikrussyifa Asma Berojomusti, Paciran, Lamongan , Jawa Timur, merupakan salah satu pondok pesantren yang bersedia menampung caleg-caleg stres untuk diobati secara spiritual. Menurut K.H. Muzzakin, pesantren yang dipimpinnya menerima sedikitnya 40 caleg stres dari berbagai penjuru tanah air. Mulai dari Jawa Timur sendiri, hingga Jakarta, Banten, hingga Kalimantan barat.

Di pesantren ini, caleg-caleg yang stres bertingkah aneh. Diantaranya sampai ada yang telanjang dan teriak-teriak di pesantren. Setelah ditelusuri, ternyata caleg tersebut telah menghabiskan Rp.700 juta untuk menjadi caleg DPRD Sidoarjo. Namun, suara yang didapatkannya tidak sepadan dengan uang yang dikeluarkannya.

3. Mengamuk dan menganiaya tim sukses
Di Palembang, seorang caleg yang tidak terpilih mengamuk dan menganiaya tim suksesnya dengan menggunakan senjata api. Alhasil, kepala korban pun bocor dipopor gagang senjata.

Dengan kondisi kepala bocor, Dul Khoiri, melapor ke Polresta Palembang, Rabu 16 April 2014. Dalam laporannya, korban mengaku dikeroyok dan dianiaya oleh Muhammad Abduh, caleg Partai Nasdem dan adiknya bernama Bayu.

Khoiri mengakui, dirinya sebagai tim sukses Abduh, tidak dapat memenangkan perolehan suara pada pemilu legislatif 9 April lalu. Tidak terima dengan kekalahan itu, M Abuh menuntut Khoiri mengembalikan semua uang yang telah dikeluarkan. Namun karena uangnya telah habis untuk menyuap para pemilih, keduanya emosi dan mengeroyok korban.

4. Mengusir keluarga miskin
Kelik, warga kota Subulussalam diusir seorang caleg Partai Hanura yang gagal dalam pemilu legislatif 9 April lalu. Kelik mengaku, sebenarnya ia sudah mencoblos caleg yang dianggapnya sebagai abang sendiri itu. Namun karena ada isu bahwa Kelik memilih caleg lain, ia pun disuruh pindah dari rumah yang dibangun di atas tanah sang caleg.

"Padahal saya memilih beliau saat pencoblosan, tetapi kemungkinan ada yang mengisukan saya tidak mendukung beliau hingga terjadilah peristiwa ini. Akhirnya saya memutuskan pindah sajalah," kata Kelik yang ditemui di sela kesibukannya membangun tempat tinggal baru di atas lahan yang dipinjamkan oleh seorang kerabatnya.

5. Blokir jalan desa
Seorang caleg dari Partai Golkar memblokir aksis jalan desa di sekitar rumahnya di Nusa Penida, Klungkung, Bali. Pasalnya, ia kecewa tidak didukung oleh warga sekitar pada Pemilu legislatif 9 April lalu.

Dengan menggunakan batako, I Ketut Rai yang mendapat nomor urut 5 pada kartu suara itu memblokade jalan. Akibatnya, warga pun kesulitan ketika hendak bepergian. (A1)

Marah, Warga Desa Ini Ikat Maling Motor di Sarang Semut Beracun

BeritaPopuler - Dua pemuda yang mencuri motor nyaris tewas setelah dihukum warga. Mereka diikat di pohon yang dipenuhi kawanan semut beracun selama tiga hari berturut-turut.

Penduduk di kawasan hutan Amazon, Ayopaya, Bolivia Barat sengaja menghukum dua pemuda berusia 18 dan 19 tahun pelaku pencurian motor itu. Mereka baru dibebaskan pada Sabtu pekan lalu setelah keluarganya membayar uang tebusan sebesar 2.211 pund sterling. Uang kompensasi atas motor yang hilang itu terbilang mahal. Nilainya yang setara Rp42 juta, hampir sama dengan upah warga Bolivia selama empat tahun.

Diikat di pohon bersemut mematikan selama tiga hari membuat kedua maling motor itu langsung kritis dan seorang lagi hancur ginjalnya.

"Mereka mengalami kondisi yang sangat parah, hampir tewas, karena diserang oleh gerombolan semut beracun," ujar Dr. Roberto Paz yang bertugas di Bolivia Cochabamba hospital, seperti dikutip Visordown, Selasa, 15 April 2014.

Semut pseudomyrmex triplarinus (semut api) hidup di pohon Triplaris yang tumbuh di kawasan Amerika Tengah hingga Selatan. Racun semut api dikenal sangat mematikan. Dalam dosis kecil, semut itu biasa digunakan untuk pengobatan rematik. (B2)

Temui Dubes AS dan Vatikan, Jokowi Terus Disorot di Media Sosial

BeritaPopuler - Bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo terus menjadi sorotan di media sosial. Hingga hari ini, banyak akun warga di Facebook dan Twitter yang mengecam manuver Jokowi bertemu Dubes AS dan Vatikan.

Umumnya, pengguna media sosial mempertanyakan maksud Jokowi dan PDIP menemui Dubes AS. Mereka yang tadinya tidak percaya terkait tudingan Jokowi capres boneka, kini terlihat mulai ragu-ragu apakah Jokowi benar-benar akan menjadi boneka AS jika nantinya terpilih menjadi presiden.

Selain itu, pertemuan Permata Hijau juga bertentangan dengan jargon PDIP yang selama ini mengklaim sebagai nasionalis sejati dan pengikut Bung Karno. Pasalnya, bertemu dengan Dubes AS sebelum Pilpres terkesan mencari dukungan kepada negara adikuasa itu sekaligus menggadaikan kedaulatan bangsa. Hal yang sangat bertolak belakang dengan sikap Bung Karno yang mengajarkan berdikari dan lantang mengatakan “Go to hell” kepada AS.

Yang paling mengecewakan bagi sebagian besar pengguna media sosial, adalah fakta bahwa dalam pertemuan tersebut hadir pula Dubes Vatikan. Pertemuan itu seakan menjadi justifikasi bahwa orang-orang di belakang Jokowi adalah kelompok fundamentalis Kristen dan Katolik. Seperti diketahui, saat Jokowi meninnggalkan jabatan Wali Kota Solo, ia membuat daerah itu dipimpin oleh seorang Nasrani. Saat nantinya terpilih menjadi Presiden, Jokowi juga membuat DKI Jakarta dipimpin oleh Ahok yang seorang Nasrani. (A1)

Wednesday, 16 April 2014

Puan dan Guruh Bantah Jokowi, PDIP Pecah Hadapi Pilpres?

Puan - Jokowi - Guruh
BeritaPopuler - Usai pemilu legislatif yang menurut quick count hanya mendapatkan 18 persen, kubu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kini seperti dilanda perpecahan. Pernyataan demi pernyataan yang saling bertentangan keluar dari pejabat tinggi dan bakal calon presiden dari partai berlambang kepala banteng itu.

Puan Maharani, Ketua DPP PDIP, membantah pernyataan Jokowi. Bantahan ini mengenai pernyataan Jokowi yang akan memimpin badan pemenangan (BP) untuk Pemilihan Umum Presiden (Pilpres).

Menurut Puan, tidak ada tim yang berbeda untuk BP Pilpres. Hanya saja ada perubahan mendasar mengenai jumlah anggota dan cakupan operasinya. Sebab BP Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) menjadi satu dengan BP Pilpres.

"BP pemilu Pileg akan menjadi atau meneruskan menjadi BP Pilpres dengan ditambah dan diperluas strukturnya untuk melebur, bersinergi dengan kekuatan-kekuatan yang nantinya akan disatukan dengan PDI Perjuangan," jelasnya usai melakukan rapat koordinasi partai di Rumah Megawati, Selasa 15 April 2014.

Sementara itu, Guruh Soekarnoputra tak setuju dengan pencalonan Jokowi sebagai presiden di Pilpres 2014. Menurutnya, Jokowi masih harus banyak belajar sebelum memimpin Indonesia.

Guruh mengatakan, seorang presiden harus memiliki wawasan yang luas. Selain itu, kata dia, capres juga harus punya pengetahuan tentang dunia politik luar negeri.

"Pak Jokowi itu masih harus perlu waktu banyak belajar apalagi presiden wawasannya harus luas, tahu politik secara dalam dan mau enggak mau harus dibawa ke alam dunia politik nasional atau internasional," ujar Guruh di Gedung DPR, Jakarta, Selasa 15 April 2014.

Guruh menilai, jiwa Soekarno belum ada di dalam diri Jokowi. Bahkan menurut dia, Jokowi belum matang sebagai calon pemimpin bangsa.

"Kami penerus perjuangan Bung Karno memegang ajaran Bung Karno. Pak Jokowi sudah sematang apa dalam hal ajaran Bung Karno? Ajaran Bung Karno mengajarkan kita tentang ideologi NKRI," terang putra bungsu Bung Karno itu. (B2)